BENIH PALSU DAN INDUSTRI HILIR SAWIT

Selama sekitar 10 tahun terakhir, harga Tandan Buah Sawit (TBS) secara umum mengalami kenaikan terus-menerus. Penurunan harga hanya terjadi di sekitar tahun 1999/2000, meskipun nilainya tidak terlalu besar. Penurunan harga pada tahun-tahun itu, disebabkan oleh adanya over produksi, akibat peningkatan hasil panen yang luarbiasa. Namun selanjutnya sampai dengan tahun 2005 ini, harga TBS tidak pernah mengalami penurunan. Itulah sebabnya minat masyarakat untuk mengebunkan sawit juga terus-menerus meningkat.

Namun ada yang perlu diwaspadai. Minat untuk menanam sawit ini tidak disertai dengan pengetahuan yang cukup baik tentang komoditas tersebut. Hingga misalnya, ada investor yang akan menanam sawit seluas 10.000 hektar di Jawa. Kalau di luar Jawa, lahan sawit 10.000 hektar termasuk kecil. Sebab standar areal untuk memasok satu pabrik CPO adalah 15.000 hektar. Pabrik CPO skala mini, sebenarnya sangat tidak efisien. Lebih-lebih kalau lahan sawit itu berada di Jawa.

Saat ini, investor sawit profesional, akan memperhitungkan nilai lahan saat investasi. Kalau nilai lahan masih sekitar Rp 200,- per m2, maka dia akan masuk. Kalau nilai lahan sudah di atas Rp 200,- per m2, dia akan berusaha mendapatkan lahan lain yang nilainya masih di bawah Rp 200,- per m2. Lahan di Jawa yang akan ditanami sawit, nilainya sudah sekitar Rp 2.500,- per m2. Lahan tersebut memang milik Perum Perhutani yang akan dikerjasamakan dengan investor. Artinya, investor tidak akan mengeluarkan dana guna investasi membeli lahan.

Lahan dengan harga Rp 2.500,- per m2, (25 juta per hektar), idealnya diberi investasi yang nilainya minimal Rp 50.000.000,- per hektar. Hingga investasi sawit yang hanya sekitar Rp 20.000.000,- per hektar, menjadi terlalu murah untuk lahan di Jawa. Lebih-lebih kalau nilai lahan itu sudah di atas Rp 5.000,- per m2. Dalam luasan 10.000 hektar nilai lahan tersebut sudah mencapai Rp 500.000.000.000,- (limaratus milyar rupiah). Lahan dengan nilai tersebut, kalau dijual dan hasilnya didepositokan dengan tingkat suku bunga 5%, akan menghasilkan Rp 25.000.000.000,- tanpa perlu bekerja apa pun.

Nilai investasi sawit minimal Rp 20.000.000,- per hektar adalah harga mati. Kalau ada pihak yang menawarkan nilai investasi sawit hanya sekitar Rp 10.000.000,- per hektar, maka kemungkinan merupakan penipuan. Salah satu cara menipu paling mudah adalah dengan menggunakan benih sawit palsu. Saat ini disinyalir telah ditanam jutaan benih palsu di kawasan Riau, Jambi dan Sumsel. Yang dimaksud dengan benih sawit palsu, sebenarnya adalah benih sawit biasa. Benih ini disemai dari biji TBS yang akan disetor ke pabrik. Sawit memang sangat mudah tumbuh. Di bawah tegakan sawit produktif, dengan sangat mudah kita jumpai tumbuhan benih sawit.   

Sawit yang ditanam oleh perkebunan besar, merupakan benih hibrida, hasil silangan sawit liar Afrika Barat (Elaeis guineensis) dan sawit Amerika Tengah/Latin (Elaeis malanococca). Ciri-ciri sawit hibrida ini adalah, akan berbuah mulai umur 2,5 tahun. Produksinya tinggi, dengan kadar minyak yang juga tinggi. TBS dari sawit hibrida ini hanya bisa diproduksi menjadi CPO. Sebab apabila buah dari TBS hibrida ini ditanam, hasilnya akan kembali ke kedua induknya.

Tanaman sawit liar dengan benih yang berasal dari TBS produksi, baru akan berbuah paling cepat pada umur empat tahun. Tandan buahnya juga kecil-kecil dan kadar minyaknya rendah. Sawit liar ini memang cocok untuk tanaman hias, karena umurnya panjang, bisa mencapai ratusan tahun.  Namun jelas tidak mungkin ditanam sebagai penghasil TBS. Sebab benih sawit asli, berasal dari pohon induk yang telah bersertifikat hasil penelitian lama. Proses penyilangan dua jenis kelapa sawit ini juga cukup rumit.

Sementara para pemalsu benih sawit hanya sekadar membeli TBS, mengambil buah dari TBS tersebut, memeramnya agar daging buahnya membusuk, baru kemudian menyemainya. Proses ini sangat mudah dan murah. Namun dengan memasarkannya sebagai "benih bermutu" maka keuntungan para pemalsu benih ini akan berlipat ganda. Itulah sebabnya para calon pekebun haruslah berhati-hati dalam membeli benih. Belilah benih dari Balai  Penelitian Sawit di Marihat (Sumut), PTPN atau perkebunan swasta. Dan menanam sawit di Jawa sudah terlalu mahal nilai lahannya.
 
Di Jawa, saat ini hanya ada satu pabrik Crude Palm Oil (CPO) di kab. Lebak, Banten. Pabrik ini milik PTPN VIII Jawa Barat. Kalau seseorang membuka pabrik untuk areal sawit 10.000 hektar di Jawa, sebenarnya sangat tanggung. Dalam arti kebunnya kurang luas. Namun kalau kebun sawit itu menjual TBSnya ke PTPN VIII, dia hanya akan memperoleh keuntungan yang tidak terlalu besar. Sebab yang paling menguntungkan bagi investor, bukan membuka kebun sawit melainkan masuk ke industri hilirnya. Yang dimaksud dengan industri  hilir, dalam hal ini bukan mengolah TBS menjadi CPO, melainkan mengolah CPO menjadi produk turunannya.

Di dalam negeri, saat ini CPO paling banyak diolah menjadi minyak goreng atau cooking oil/fats. Padahal sebenarnya CPO bisa langsung diolah menjadi shortening (perenyah kue), margarine, non diary cream, emulsion, micro encapsulate dll. Selain diolah langsung, CPO juga bisa diolah lebih lanjut menjadi bahan baku industri, yakni oleokimia. Dari oleokimia  kita bisa memproduksi fatty acids, fatty alcohols, fatty acid methyl ester, fatty amine, glycerine dll. Selain oleokimia, CPO juga bisa diolah menjadi bahan deterjen (liquid maupun powder), loundry soap, toilet soal dll. Agroindustri hilir berbahan CPO dan olein tersebut, saat ini lebih banyak dilakukan di luar negeri.

Jenis oleokimia sendiri ada beberapa, yakni asam lemak (dan turunannya), metil ester asam lemak, gliserol dan turunannya, fatty alcohol dan turunannya. Dari bahan-bahan ini bisa diproduksi plastik, tekstil sintetis, resin sintetis, bahan pembersih logam, kosmetik dll. Gliserin paling banyak dipakai dalam industri farmasi, kosmetika dan pangan berbasis ester. Secera sederhana, CPO dapat diolah lebih lanjut menjadi oleokimia dasar, yakni asam lemak, gliserol, fatty alcohol, fatty amine dan fame. Oleokimia dasar dapat diproses menjadi oleokimia  sekunder.

Oleokimia sekunder antara lain fatty amina, asam dimer, al etoksilat, al sulfonat, ester dan bahan deterjen. Oleokimia sekunder merupakan bahan baku untuk industri kosmetika, emulsi faler, biodisel, pelumas, plastik, lilin, deterjan pestisida dll. Hingga sebenarnya, prospek agroindustri hilir sawit demikian luasnya. Ini baru industri hilir berbasiskan CPO. Belum industri hilir berbasiskan minyak inti sawit (minyak yang diambil dari biji), agroindustri tempurung sawit, agroindustri serat Tandan Buah Kosong (TBK).

Namun dalam kondisi harga CPO sangat baik saat ini, PTPN maupun perkebunan swasta besar agak malas untuk beranjak dari hanya sekadar memproduksi CPO. Bagi kalangan pekebun ini, menghadapi permasalahan off farm pun sudah sangat rumit. Misalnya penjarahan lahan, pencurian TBS, premanisme, rongrongan aparat keamanan dan pemda dll. Hingga permasalahan on farm kadang-kadang mereka nomorduakan, karena masalah off farm memang lebih menuntut perhatian. Belum lagi rongrongan dari intern aparat perusahaan itu sendiri. Salah satu perkebunan swasta besar kita pernah mengeluh soal TBK.

Kalau TBK ini dikembalikan ke kebun (di bawah tegakan), maka akan bisa dilakukan penghematan pupuk sampai dengan 50% dari kebutuhan sebelumnya. Maka diputuskanlah untuk mengembalikan TBK itu ke lokasi kebun. Setelah setahun berjalan, ternyata dampaknya tidak ada. Selidik punya selidik, ternyata TBK itu hanya dibuang di sungai terdekat. Sebab dengan cara ini, truk-truk yang dikelola oleh perusahaan kontraktor ini bisa mendapatkan keuntungan lebih. Kemudian perusahaan kontraktor ini diusulkan untuk diputus. Ternyata pihak direksi tidak setuju.

Ketahuanlah kemudian bahwa truk-truk yang dikontrak untuk mengangkut TBS dan TBK itu hampir seluruhnya milik direksi yang ada di Jakarta sana. Setelah otoritas yang lebih tinggi bertindak, maka truk-truk itu pun bersedia mengangkut TBK ke bawah tegakan. Dan terbukti penghematan biaya produksi, terutama dari oemupukan, bisa mencapai lebihdari 50%. Rongrongan sebuah perkebunan sawit memang tidak harus datang dari pihak luar. Rorongan dari dalam kadang-kadang lebih ganas daripada yang datang dari pihak luar.

Dewasa ini, bujukan untuk melakukan investasi membuka kebun sawit memang datang dari mana-mana. Kalau kita datang ke semua provinsi di Sumatera dan Kalimantan, bahkan juga di Banten, maka hampir setiap saat akan datang iming-iming untuk membuka kebun sawit. Pihak yang menawarkan jasa itu akan menjamin segala sesuatunya beres. Investor tinggal tahu bersihnya dan setelah 2,5 tahun nanti, tinggal menerima keuntungan. Namun justru di sinilah letak kelemahannya.

Investor sawit harus tahu banyak. Terutama tentang asal-usul benih. Sebab kalau benihnya berasal dari TBS, maka akhirnya investor akan gigit jari. Selain itu, sebenarnya investasi sawit jauh kebih menguntungkan di industri hilirnya. Mengolah CPO menjadi berbagai produk turunannya, jauh lebih memiliki prospek daripada sekadar menanam sawit dan menjual TBSnya. Bahkan dibanding dengan mengolah TBS menjadi CPO pun, industri hilir mengolah CPO menjadi produk turunannya relatif masih lebih menguntungkan. (R) * * *