MENGHIJAUKAN LAHAN KRITIS DENGAN GAMELINA

Sejak duapuluh tahun silam, masyarakat Indonesia demam menghijaukan lahan kritis mereka dengan albisia. Tanaman keras penghasil kayu ringan ini memang menjadi trend dan naik daun. Terutama sejak fungsinya sebagai bahan bangunan murah dan peti sabun, berubah menjadi komoditas kayu olahan untuk diekspor ke Jepang. Sebenarnya, albisia memiliki kelemahan karena tajuknya yang berdaun majemuk mirip lamtoro, kurang berfungsi untuk melindungi lahan kritis. Rontokan daunnya yang sangat sedikit juga kurang berarti untuk menciptakan humus yang bisa meningkatkan kesuburan lahan. Namun albisia masih lebih baik dibanding dengan akasia yang pertumbuhannya lamban dan daunnya tidak mudah hancur serta mengeluarkan zat alelopati yang tidak memungkinkan tanaman lain hidup disekitarnya.

Selain albisia dan akasia, sebenarnya masih ada tanaman penghasil kayu yang bongsor, berdaun lebar dan bertajuk lebat. Kayunya juga ringan dan putih seperti halnya albisia. Tanaman itu bernama gamelina. Gamelina malahan lebih bongsor dibanding albisia. Batangnya juga lurus. Tajuknya lebih rapat dibanding akasia, lebih-lebih albisia. Daun gamelina lebar berbentuk jantung berujung runcing. Ukuran lebarnya 15 cm dengan panjang 20 cm. Hingga total volume daun gamelina jauh lebih besar dibanding daun albisia. Sosok tanaman dan daun  gamelina, mirip dengan tanaman hias jati mas. Beda dengan daun akasia mangium yang keras, berminyak dan sulit hancur, daun gamelina lunak dan mudah sekali hancur.

Di Indonesia, perusahaan HTI (Hutan Tanaman Industri) yang sudah menanam gamelina antara lain Sumalindo dan Sinar Mas. Di Jakarta, sosok tanaman gamelina bisa dilihat antara lain sisi kiri jalan tol Jagorawi dari arah Bogor, selepas pintu tol Cibubur menjelang masuk pintu tol Rambutan/Taman Mini. Selain itu juga bisa dijumpai di pinggir kiri jalan raya Bogor ke arah Jakarta, di kawasan Cijantung, yang saat ini sedang dibangun jalan layang Pasar Rebo. Di beberapa kawasan hutan kota di DKI, gamelina juga ditanam di antara tanaman penghijauan lainnya. Di Kalimantan Timur dan Sulawesi Selatan, masyarakat sudah mulai tertarik untuk membudidayakan gamelina. Hasilnya mereka jual ke pabrik pulp (bubur kertas) atau industri pengolahan kayu lainnya.

Pohon gamelina berkulit kayu cokelat terang ke arah abu-abu, dengan permukaan yang tampak licin. Di tempat tumbuh dengan topsoil dangkal, gamelina akan membentuk akar papan. Sebab perakaran gamelina yang dalam membutuhkan topsoil yang dalam pula. Ketinggian gamelina bisa mencapai 20 m. Di lahan-lahan subur, ketinggiannya bisa mencapai 30 m lebih, dengan diameter batang mencapai 0,5 m pada umur tanaman 10 tahun. Meskipun berbatang lurus, cabang gamelina akan terus tumbuh mulai dari pangkal batang. Meskipun telah dilakukan pemangkasan, ranting-ranting baru akan terus bertumbuhan. Beda dengan albisia yang berbatang mulus karena ranting/cabang baru tidak akan tumbuh dari batang utama apabila dilakukan pemangkasan.

Sebenarnya, ada tiga macam gamelina sebagai tanaman penghijauan penghasil kayu. Pertama Gmelina asiatica yang tersebar di seluruh wilayah Indonesia dan disebut sebagai kayu Warèng. Kedua Gmelina moluccana yang banyak tumbuh di kawasan Maluku. Di sana kayu ini dikenal dengan nama Titi. Ada jenis yang berkayu merah dan ada yang kayunya putih. Masyarakat Maluku biasa memanfaatkan kayu titi untuk bahan perahu. Ketiga adalah Gmelina arborea yang merupakan tanaman introduksi dari Asia Selatan/Tenggara. Gmelina asborea banyak tumbuh di India, Bangladesh, Srilanka, Indochina, Malaysia, Filipina dan Cina Selatan. Gmelina arborea inilah yang sejak sepuluh tahun terakhir, diintroduksi ke Indonesia sebagai tanaman penghasil kayu.

Kalau di Indonesia budidaya gamelina sebagai tanaman HTI baru dimulai sekitar 10 tahun silam, maka di Amerika Latin gamelina sudah diintroduksi dan dibudidayakan sejak puluhan tahun silam. Selain untuk bahan pulp, kayu gamelina paling banyak dimanfaatkan sebagai bahan bakar. Baik berupa kayu bakar maupun arang. Kalori kayu gamelina mencapai 4.800 k. cal/kg, sementara rata-rata kayu bakar hanya menghasilkan kalori 4.000 k. cal/kg. Pemanfaatan gamelina sebagai kayu bakar sudah lama dilakukan di negara-negara tropis di Afrika dan Asia Tenggara. Di Afrika, hutan gamelina juga telah dimanfaatkan sebagai penghasil nektar (madu) dan polen dalam agroindustri perlebahan dengan hasil yang cukup baik.

Selain untuk pulp, di Indonesia perusahaan HTI memanfaatkan kayu gamelina untuk bahan baku MDF (Midle Density Fibre), yakni serat kayu yang diberi perekat dan dipres dengan tingkat kerapatan sedang. Ketebalan dan ukuran luas MDF disesuaikan dengan kebutuhan. Pamor MDF akhir-akhir ini lebih baik dibanding dengan Playwood (triplek) yang menggunakan kayu hutan tropis. Pertama, karena MDF memanfaatkan kayu budidaya. Kedua, semua bagian tanaman mulai dari kulit batang, cabang dan ranting bisa digiling untuk diambil seratnya. Sementara dalam industri playwood, yang dimanfaatkan hanya bagian batang dengan ukuran tertentu untuk diserut menjadi lembaran-lembaran tipis.

Gamelina bisa tumbuh di ketinggian mulai dari 0 m dpl. sampai dengan 1.000 m  dpl. Namun pada ketinggian di atas 700 m dpl. pertumbuhan gamelina menjadi lebih lambat dibanding dengan di dataran rendah. Meskipun mampu tumbuh di semua jenis tanah dan agroklimat, namun di tanah pasir dan udara kering, gamelina hanya mampu menghasilkan kayu rata-rata 100 m3 per hektar per tahun pada usia tebang 12 tahun. Pada tanah liat dengan iklim sedang, hasil per hektar pada umur tebang  yang sama mencapai 200 m3. Sementara pada lahan subur dengan curah hujan tinggi, umur tebang cukup 10 tahun dengan hasil kayu mencapai 400 m3. Hingga gamelina ideal untuk dikembangkan di kawasan dengan curah hujan tinggi dan tanah subur bekas tebangan hutan primer. Namun gemelina juga tidak menghendaki lahan pasang surut atau gambut dengan tingkat kemasaman tinggi (pH 4,5).

Gamelina dibudidayakan dengan benih dari biji maupun stek. Tanaman umur 5 tahun, rata-rata sudah mulai menghasilkan biji yang bisa dijadikan benih. Sementara benih stek diambil dari ranting dengan tingkat ketuaan sedang. Penyemaian biji dilakukan dalam bedeng terbuka yang diberi naungan miring. Sementara penyemaian setek dilakukan dalam sungkup plastik (green house sederhana), untuk menjaga kelembapan. Bagian pangkal stek harus diberi ZPT (Zat Perangsang Tumbuh) akar. Sementara umur biji harus di bawah tiga bulan setelah dipanen, untuk menjaga agar tingkat perkecambahannya tetap tinggi.

Pada umur 1 tahun, tinggi semaian sudah akan mencapai 1,5 m, dengan diameter pangkal batang mencapai 2,5 cm.  Pada saat itulah benih dipangkas pucuknya hingga tinggal 1 m, dicabut dan dikurangi akar tunggangnya hingga menjadi stump yang siap untuk ditanam di lapangan. Penggunaan stump untuk penanaman di lapangan, dengan pertimbangan untuk mencapai mortalitas serendah mungkin. Lebih-lebih kalau lahan yang akan ditanami berupa bekas tebangan rimba. Penanaman dengan benih stump juga akan mempercepat pertumbuhan tanaman hingga pada umur 10 tahun sudah mencapai ukuran batang optimum untuk dipanen. Artinya, kalau antara umur 1 sd. 10 tahun diameter batang bisa mencapai 50 cm, berarti pertumbuhan diameter batang rata-rata per tahunnya 5 cm. Di atas umur 10 tahun, pertumbuhan rata-ratanya akan terus menurun di bawah 5 cm per tahun.

Jarak tanam gamelina bisa seperti albisia yakni 2 X 3 m, dengan populasi 1.500 tanaman per hektar. Jarak tanam ini bisa divariasi menjadi 2,5 X 2,5 m dengan populasi tanaman 1.600 atau lebih rapat lagi yakni 2 X 2,5 m dengan populasi tanaman mencapai 2.000 pohon per hektar. Namun hasil kayu tidak ditentukan oleh jarak tanam, melainkan tingkat kesuburan lahan dan curah hujan. Jarak tanam juga berpengaruh ke biaya benih. Sebab dengan harga stump Rp 1.000,- di lokasi (produksi massal), maka kebutuhan benih per hektar dengan jarak tanam 2 X 3 m hanya Rp 1.500.000,- Sementara dengan jarak tanam 2,5 X 2,5 mencapai Rp 1.600.000,- dan jarak tanam 2 X 2,5 m mencapai 2.000.000,- Dalam hitungan puluhan ribu hektar, selisih biaya benih dan penanaman akan mencapai hitungan puluhan milyar rupiah, sementara hasil kayunya secara total pada panen akhir akan tetap sama.

Hasil panen kayu gamelina dari lahan dengan tingkat kesuburan sedang mencapai 200 m3 per hektar, dengan tingkat harga kayu Rp 100.000,- per m3, maka hasil tanaman per hektar Rp 20.000.000,- Pada lahan marjinal, hasil bruto per hektar hanya Rp 10.000.000,- sementara pada lahan subur mencapai Rp 40.000.000,- Selain hasil kayu, sebenarnya gamelina masih bisa menghasilkan nektar dan polen apabila agribisnis HTI dikombinasikan dengan agroindustri perlebahan. Selama ini tanaman gamelina baru populer di Kalimantan dan Sulawesi. Sementara di Jawa pemanfaatannya masih sebatas sebagai tanaman peneduh Dinas Pertamanan. Sebab di Jawa, masyarakatnya masih lebih menyukai albisia daripada gamelina. (R) * * *