PELUANG PRODUKSI TEPUNG TAPIOKA

Bulan-bulan Juli, Agustus, September dan Oktober adalah bulan-bulan panen raya singkong (ubi kayu, ketela pohon, Manihot esculenta, M. utilisima). Biasanya pada musim-musim seperti ini, harga singkong akan jatuh ke tingkat yang sangat tidak masuk akal saking murahnya. Hal ini terjadi karena hukum pasar. Selama bulan-bulan Juni sd. Oktober, hasil singkong menumpuk. Hingga pasokan pun melimpah.  Sementara konsumen singkong populasinya tetap, hingga permintaan singkong juga tidak bisa diperbesar lagi.

Sebagai salah satu alternatif, singkong itu diawetkan menjadi gaplek atau diproses menjadi pati singkong. Namun untuk melaksanakan program ini, juga diperlukan tenaga kerja dan modal ekstra. Pabrik pati singkong misalnya, terpaksa harus bekerja 24 jam selama sekitar 5 bulan, dengan konsentrasi sangat sibuk hanya sekitar 3 bulan. Meskipun sudah bekerja 24 jam penuh, kapasitas pabrik itu tidak akan sanggup untuk menampung singkong yang melimpah. Akibatnya jelas harga akan jatuh. Hingga kadang-kadang petani tidak mampu lagi membiayai panen. Sebab biaya untuk panen, jauh lebih besar dibanding nilai singkong itu sendiri.

Sebenarnya, selama musim raya demikian, petani bisa mengolah sendiri singkong segar mereka hingga menjadi tepung tapioka. Dalam dunia perdagangan, dibedakan produk tepung tapioka (pati singkong, aci, kadangkala juga disebut "sagu"), dengan tepung casava (tepung gaplek). Tepung tapioka diperoleh dari singkong segar yang dihancurkan dan diperas (disaring). Ampasnya dibuang dan air perasannya diendapkan. Setelah mengendap, air singkong dibuang, kemudian endapan patinya dikeringkan.

Di pabrik tapioka modern, singkong segar dicuci dengan cara direndam dalam bak pencucian yang airnya bergolak. Setelah bersih, singkong segar dilakukan dengan mesin pencacah, tanpa terlebih dahulu dikupas. Dalam industri rumahtangga, penghancuran singkong segar dilakukan dengan pemarutan. Baik dengan parut manual maupun dengan mesin pemarut portable bermesin dengan bahan bakar bensin, atau mesin bertenaga listrik. Beda dengan industri tepung aci rakyat, pabrik tapioka modern menyaring dan mengendapkan pati melalui beberapa tahap dengan saringan yang berbeda-beda.

Tepung casava adalah produk dari gaplek, yakni singkong segar yang dikupas, dibelah dua dan dikeringkan. Setelah kering, gaplek itu digiling hingga menjadi tepung. Tepung casava dimanfaatkan sebagai sumber karbohidrat pakan ternak, terutama ternak unggas (ayam potong dan petelur) dan pakan ikan. Dalam industri pakan ternak, tepung casava masih harus dicampur dengan jagung giling, bungkil, tepung ikan, dedak, tepung tulang, tepung darah, vitamin dan mineral. Sementara tepung tapioka, selama ini dimanfaatkan untuk bahan lem, gula cair (HSF = Hight Fructose Syrup), asam sitrat, kerupuk, bakso, pempek dan masih banyak lagi kegunaan lainnya.

Di negara maju, tapioka paling banyak diserap oleh industri HSF dan asam sitrat, yang muaranya ke industri berbagai minuman sintetis. Misalnya minuman berupa serbuk padat dengan rasa jeruk. Di Indonesia, tapioka paling banyak diserap oleh industri bakso dan berbagai kerupuk. Pempek, meskipun berbahan baku tepung tapioka, namun daya serapnya masih rendah dibanding dengan bakso. Selama ini, ada pergeseran pola makan bangsa Indonesia dari makan nasi ke makan roti, mi dan bakso. Karenanya, kebutuhan tepung tapioka dalam negeri pun makin tahun juga makin besar.

Industri tepung tapioka, bisa dilakukan oleh perusahaan raksasa dengan kebun seluas ribuan hektar. Misalnya yang dilakukan di Lampung. Di sini agroindustri singkong sudah merupakan usaha berskala multinasional. Namun industri ini bisa pula dilakukan dengan skala rumah tangga. Misalnya seperti yang dilakukan di Kab. Bogor, Jawa Barat. Industri pati singkong skala rumah tangga di Kab. Bogor, bisa bertahan selama puluhan tahun karena pasar aci singkong cukup baik. Terutama pasar lokal untuk bahan kerupuk dan bakso.

Agroindustri pati singkong rakyat di kawasan ini, juga tetap bisa bertahan karena adanya suplai singkong tua juga selalu kontinu. Di Kab. Bogor, terutama di sekitar kota Bogor, hujan berlangsung sepanjang tahun. Musim kemarau hampir tidak ada. Itulah sebabnya Bogor juga dikenal sebagai kota hujan. Di kawasan dengan agroklimat seperti ini, singkong bisa ditanam kapan saja di sepanjang tahun. Hingga musim panennya pun, juga bisa berlangsung kapan saja di sepanjang tahun. Yang penting singkong tadi sudah berumur lebih dari 9 bulan.

Singkong yang paling banyak dibudidayakan untuk diambil patinya adalah singkong racun. Singkong ini berbatang hijau ke arah abu-abu, biru atau ungu. Demikian pula dengan tangkai daun dan pucuknya yang juga berwarna hijau tua. Singkong yang dibudidayakan di sekitar Bogor, banyak yang pucuknya berwarna cokelat kemerahan. Itu adalah singkong varietas mentega yang banyak diserap oleh industri tapai. Industri tapai (bukan peuyeum), lebih menyukai singkong mentega yang daging umbinya kuning orange mirip warna mentega.

Batang singkong racun besar dan tinggi. Pertumbuhan singkong racun sangat pesat, dengan tingkat produktivitas tinggi. Dengan benih, lahan dan perlakuan sama,  singkong racun mampu berproduksi dua kali lipat dari singkong varietas lain. Kandungan pati singkong racun juga besar. Salah satu kelemahan singkong racun adalah, umur panennya harus mencapai lebih dari 10 bulan. Selain itu singkong racun juga tidak bisa dikonsumsi segar secara langsung. Misalnya untuk dikukus, digoreng atau dibuat getuk. Bahkan dibuat tapai pun juga masih memabokkan.

Yang menyebabkan singkong varietas ini memabukkan adalah racun HCN (asam biru). Sebenarnya semua jenis singkong juga mengandung HCN. Namun kandungan HCN pada singkong racun, paling tinggi dibanding dengan varietas lain. Pada singkong biasa HCN akan hilang ketika singkong dikupas, dicuci dan dikukus. Namun dengan perlakuan demikian, HCN singkong racun tetap masih cukup untuk memabukkan yang memakannya. HCN singkong racun baru akan hilang kalau produk ini  dikeringkan (gaplek) atau dibuat pati.

Sarana yang harus tersedia untuk membuat pati singkong adalah sumber air bersih (sumur, mataair atau air sungai yang sudah diproses),  pemarut, wadah penampung, bak pengaduk, alat penyaring (alat pres), bak pengendap, wadah penjemur, dryer dan unit packing. Kapasitas sarana ini sekitar 2 ton singkong segar per hari. Biaya investasinya Rp 15.000.000,- dengan jangka waktu penyusutan 3 tahun. Masa produksi peralatan ini per tahun selama 5 bulan @ 30 hari = 150 hari, selama 3 tahun = 450 hari.

Beban penyusutan per hari produksi = Rp 15.000.000 : 450 = Rp 100.000,-  Dari 2 ton singkong segar itu, akan diperoleh sekitar 400 kg. tepung aci (rendemen 20%). Beban biaya penyusutan untuk tiap kg. tepung aci adalah Rp 100.000,- : 400 = Rp 250,- Dengan harga singkong segar Rp 200,- per kg. (2 ton Rp 400.000,- ) dan tepung tapioka Rp 2.000,- per kg. (400 kg. = Rp 800.000,-), dipotong Rp 100.000,- beban penyusutan, masih ada selisih Rp 300.000,- Dengan beban upah, bahan bakar dan lain-lain Rp 150.000,- margin yang diperoleh mencapai Rp 150.000

Yang akan menjadi masalah agroindustri pati singkong adalah limbahnya. Pada agroindustri singkong rakyat, limbah itu berupa potongan umbi dan kulit dan ampas. Limbah cair buangan air singkong setelah patinya mengendap, juga merupakan permasalahan sendiri kalau dibuang di perairan umum. Pada agroindustri singkong modern, limbah ampas itu menggunung dan membusuk. Demikian pula dengan limbah cairnya yang membuat air sungai menjadi hitam dan berbau busuk. Ikan dan satwa air lain yang terkena cemaran limbah singkong ini akan mati.

Padahal di Lampung pun ada agroindustri singkong berskala multinasional yang memanfaatkan limbah padatnya untuk pakan sapi setelah difermentasi. Sementara limbah cairnya setelah diberi bakteri aerob, juga bisa dimanfaatkan untuk pupuk tanaman nanas yang dirotasi dengan singkong. Agroindustri singkong rakyat di kawasan Bogor, masih terlalu kecil hingga limbahnya pun masih belum bermasalah bagi lingkungan sekitar. Kulit dan potongan singkong selama ini dimanfaatkan untuk pakan domba. Sementara ampasnya juga masih bisa untuk pakan ternak, baik unggas maupun ruminansia.

Meskipun limbah cair agroindustri singkong rakyat ini masih belum bermasalah, namun ada baiknya kalau sejak dini dilakukan penanganan. Misalnya dengan menampungnya di sebuah lubang dan memberinya bakteri. Setelah bahan organik dalam cairan singkong itu diurai oleh bakteri, baru air itu bisa dibuang ke perairan umum. Namun paling tepat kalau cairan yang telah terfermentasi oleh bakteri itu, justru dimanfaatkan untuk memupuk tanaman atau kolam ikan. Kandungan bahan organik yang sudah terurai dalam cairan itu akan mampu menyuburkan tanaman maupun kolam ikan. (R) * * *